Peringati 71 Tahun KTT Asia-Afrika, Bawaslu Tulang Bawang Tegaskan Nilai Dasasila Bandung Memperkuat Demokrasi
|
Tulang Bawang — Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Tulang Bawang memperingati 71 tahun Konferensi Asia-Afrika dan lahirnya Dasasila Bandung (18 April 1955 – 18 April 2026). Momentum bersejarah ini menjadi refleksi penting atas nilai-nilai solidaritas, keadilan, dan kedaulatan yang relevan dalam memperkuat demokrasi, khususnya dalam pelaksanaan pengawasan pemilu. Sebagaimana diketahui, Konferensi Asia-Afrika yang diselenggarakan di Bandung pada tahun 1955 menjadi tonggak penting dalam sejarah hubungan internasional, yang melahirkan sepuluh prinsip Dasasila Bandung sebagai dasar kerja sama antarbangsa yang menjunjung tinggi perdamaian, keadilan, dan saling menghormati.
Ketua Bawaslu Kabupaten Tulang Bawang, Inda Fiska Mahendro, menyampaikan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Dasasila Bandung masih sangat relevan dalam konteks demokrasi saat ini.
“Peringatan 71 tahun KTT Asia-Afrika menjadi momentum bagi kita untuk merefleksikan nilai-nilai Dasasila Bandung, seperti keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap hak-hak dasar. Nilai-nilai ini sejalan dengan prinsip demokrasi yang kita jaga dalam pengawasan pemilu,” ujar Inda saat dikonfirmasi tim Humas Bawaslu Tulang Bawang, Sabtu (18/04).
Ia menambahkan bahwa dalam konteks pengawasan, nilai keadilan dan kesetaraan harus diwujudkan dalam setiap tahapan pemilu, sehingga seluruh warga negara mendapatkan perlakuan yang sama.
“Pengawasan pemilu harus memastikan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama dan diperlakukan secara adil. Ini merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai yang diwariskan dalam Dasasila Bandung,” tambahnya.
Sementara itu, Koordinator Divisi Hukum, Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat Bawaslu Kabupaten Tulang Bawang, Desi Triyana, menekankan pentingnya nilai solidaritas dan kerja sama dalam memperkuat partisipasi masyarakat.
“Semangat solidaritas yang menjadi ruh KTT Asia-Afrika dapat kita implementasikan dalam pengawasan partisipatif. Keterlibatan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan demokrasi yang sehat dan inklusif,” ujar Desi.
Ia juga menambahkan bahwa edukasi kepada masyarakat perlu terus diperkuat agar nilai-nilai demokrasi dapat dipahami secara luas.
“Kami terus mendorong partisipasi aktif masyarakat melalui edukasi dan sosialisasi, sehingga kesadaran demokrasi dapat tumbuh dan berkembang dengan baik,” jelasnya.
Di sisi lain, Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Kabupaten Tulang Bawang, A. Rachmat Lihusnu, menyoroti pentingnya prinsip keadilan dan penegakan aturan dalam menjaga integritas pemilu.
“Nilai keadilan yang terkandung dalam Dasasila Bandung harus menjadi landasan dalam penanganan pelanggaran dan penyelesaian sengketa pemilu. Setiap proses harus dilakukan secara objektif, transparan, dan berkeadilan,” ujar Rachmat.
Ia menegaskan bahwa integritas pemilu hanya dapat terwujud apabila seluruh proses berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku.
“Penegakan hukum dalam pemilu harus dilakukan secara konsisten. Ini menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap proses demokrasi,” tambahnya.
Peringatan 71 tahun KTT Asia-Afrika ini diharapkan dapat menjadi penguat komitmen seluruh jajaran Bawaslu Kabupaten Tulang Bawang dalam menjalankan tugas pengawasan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan integritas.
Bawaslu Kabupaten Tulang Bawang menegaskan bahwa semangat Dasasila Bandung tidak hanya relevan dalam konteks hubungan antarbangsa, tetapi juga menjadi inspirasi dalam membangun demokrasi yang berkeadilan, inklusif, dan bermartabat di Indonesia.
Editor: Bambang AP
Foto: Bambang AP