Literasi sebagai Strategi Pencegahan, Desi Triyana Dorong Masyarakat Melek Demokrasi
|
Tulang Bawang — Peringatan Hari Buku Sedunia dimanfaatkan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Tulang Bawang sebagai momentum untuk memperkuat pendekatan pencegahan melalui literasi, khususnya dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya demokrasi yang sehat. Berbeda dari sudut pandang sebelumnya yang menekankan internal kelembagaan, kali ini Bawaslu Tulang Bawang menyoroti peran literasi sebagai strategi kunci dalam mencegah pelanggaran pemilu sejak dini. Literasi dinilai menjadi jembatan penting dalam meningkatkan pemahaman publik terkait hak dan kewajiban dalam proses demokrasi.
Koordinator Divisi Hukum, Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat Bawaslu Kabupaten Tulang Bawang, Desi Triyana, menegaskan bahwa literasi memiliki peran vital dalam memperkuat upaya pencegahan.
“Pendekatan pencegahan tidak bisa dilepaskan dari literasi. Ketika masyarakat memahami aturan, mekanisme, serta potensi pelanggaran, maka kesadaran untuk tidak melanggar akan tumbuh dengan sendirinya,” ujar Desi saat dikonfirmasi tim Humas Bawaslu Tulang Bawang, Kamis (23/04).
Ia menjelaskan bahwa literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca buku, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi secara utuh, termasuk di ruang digital.
“Di era sekarang, literasi harus diperluas menjadi literasi informasi dan digital. Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk menyaring informasi, agar tidak mudah terpengaruh hoaks atau disinformasi yang dapat merusak kualitas demokrasi,” jelasnya.
Desi juga menekankan bahwa edukasi kepada masyarakat harus dilakukan secara berkelanjutan dan dengan pendekatan yang lebih kreatif serta adaptif.
“Kami terus mendorong penyampaian informasi yang edukatif dan mudah dipahami, baik melalui media sosial, kegiatan sosialisasi, maupun kolaborasi dengan berbagai pihak,” tambahnya.
Menurutnya, penguatan literasi masyarakat akan berdampak langsung pada kualitas partisipasi publik dalam pengawasan pemilu.
“Ketika masyarakat memiliki literasi yang baik, mereka tidak hanya menjadi pemilih yang cerdas, tetapi juga dapat berperan aktif dalam pengawasan partisipatif,” tegasnya.
Lebih lanjut, Desi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan momentum Hari Buku Sedunia sebagai titik awal dalam membangun budaya literasi yang lebih kuat.
“Demokrasi yang berkualitas membutuhkan masyarakat yang sadar dan teredukasi. Oleh karena itu, mari kita jadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa Bawaslu akan terus membuka ruang partisipasi publik sebagai bagian dari penguatan demokrasi.
“Pengawasan bukan hanya tugas Bawaslu, tetapi tanggung jawab bersama. Dengan literasi yang kuat, masyarakat dapat menjadi mitra strategis dalam menjaga integritas pemilu,” tutupnya.
Melalui pendekatan ini, Bawaslu Kabupaten Tulang Bawang menunjukkan bahwa literasi bukan sekadar simbol peringatan, tetapi merupakan strategi nyata dalam memperkuat pencegahan dan membangun demokrasi yang lebih berintegritas dan berkelanjutan.
Editor: Bambang AP
Foto: Bambang AP