Peringati Hari Sejarah Nasional, Bawaslu Tulang Bawang Ajak Masyarakat Rawat Demokrasi Berbasis Sejarah
|
Tulang Bawang — Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) memperingati Hari Sejarah Nasional yang jatuh pada 14 Desember 2025 sebagai momentum refleksi atas perjalanan panjang demokrasi Indonesia. Peringatan ini menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen bangsa akan nilai-nilai sejarah yang telah membentuk sistem politik dan demokrasi Indonesia hingga saat ini, khususnya melalui penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu).
Dalam catatan sejarah, Indonesia telah menyelenggarakan 13 kali Pemilu, dimulai dari Pemilu 1955 sebagai Pemilu pertama di era kemerdekaan, hingga Pemilu 2024. Rangkaian Pemilu tersebut meliputi Pemilu tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, 2004, 2009, 2014, 2019, dan 2024, yang menjadi tonggak penting perkembangan demokrasi di Indonesia.
Pemilu 2024 menjadi catatan sejarah tersendiri karena untuk pertama kalinya Indonesia melaksanakan Pemilu dan Pemilihan secara serentak dalam tahun yang sama. Pada tahun tersebut, rakyat Indonesia secara bersamaan memilih Presiden dan Wakil Presiden, anggota DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, serta Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Wali Kota dan Wakil Wali Kota. Penyelenggaraan agenda demokrasi berskala besar ini menjadi bukti kematangan sistem demokrasi Indonesia sekaligus tantangan besar dalam aspek penyelenggaraan dan pengawasan.
Bawaslu menilai bahwa keberhasilan pelaksanaan Pemilu dari waktu ke waktu tidak terlepas dari peran aktif masyarakat, penyelenggara Pemilu, serta pengawas Pemilu dalam menjaga integritas proses demokrasi. Sejarah Pemilu Indonesia menjadi cermin bagi bangsa untuk terus memperbaiki kualitas demokrasi, meningkatkan partisipasi publik, serta memastikan Pemilu berlangsung secara jujur, adil, dan berintegritas.
Ketua Bawaslu Kabupaten Tulang Bawang, Inda Fiska Mahendro, menyampaikan bahwa peringatan Hari Sejarah Nasional harus dimaknai sebagai ajakan untuk tidak melupakan perjalanan demokrasi bangsa.
“Sejarah Pemilu Indonesia adalah bagian penting dari perjalanan bangsa. Dari Pemilu 1955 hingga Pemilu 2024, kita belajar bahwa demokrasi tidak hadir secara instan, tetapi dibangun melalui proses panjang, pengorbanan, dan komitmen bersama. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah,” ujar Inda, Minggu (14/12).
Ia menambahkan bahwa pengalaman penyelenggaraan Pemilu serentak tahun 2024 menjadi pelajaran berharga bagi seluruh jajaran pengawas Pemilu.
“Pemilu dan Pemilihan serentak tahun 2024 menjadi tonggak sejarah penting. Hal ini menuntut kerja pengawasan yang semakin profesional, adaptif, dan berintegritas. Bawaslu Kabupaten Tulang Bawang berkomitmen untuk terus menjaga nilai-nilai demokrasi dan memastikan setiap tahapan Pemilu berjalan sesuai prinsip keadilan dan transparansi,” lanjutnya.
Inda juga mengajak masyarakat untuk menjadikan sejarah sebagai pijakan dalam memperkuat demokrasi ke depan, dengan meningkatkan partisipasi, kesadaran hukum, serta kepedulian terhadap proses Pemilu.
Melalui peringatan Hari Sejarah Nasional 2025, Bawaslu berharap seluruh elemen bangsa dapat terus merawat demokrasi Indonesia dengan menjunjung tinggi nilai kejujuran, keadilan, dan integritas, serta menjadikan pengalaman sejarah sebagai bekal dalam menghadapi tantangan demokrasi di masa mendatang.
Editor: Bambang AP
Foto: Tim Humas Bawaslu