Lompat ke isi utama

Berita

Pegiat Pemilu Chairian Tomy Tekankan Peran Masyarakat Sipil dalam Mewujudkan Pemilu Berintegritas

g

Pegiat Pemilu dan akademisi, Chairian Tomy, sebagai narasumber dengan materi bertajuk “Peran Lembaga Pemantau dan Masyarakat Sipil dalam Mewujudkan Pemilu Berintegritas” pada Rapat Koordinasi dan Penguatan Kelembagaan Bersama Mitra Kerja yang berlangsung di Hotel Leman, Unit 2 Tulang Bawang, pada Selasa (16/09).

Tulang Bawang — Dalam rangkaian kegiatan Rapat Koordinasi dan Penguatan Kelembagaan Bersama Mitra Kerja, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Tulang Bawang menghadirkan Chairian Tomy, seorang pegiat pemilu dan akademisi, sebagai narasumber utama pada sesi bertema “Peran Lembaga Pemantau dan Masyarakat Sipil dalam Mewujudkan Pemilu Berintegritas.”

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Leman, Unit 2 Tulang Bawang, pada Selasa (16/09) ini dihadiri oleh jajaran Ketua dan Anggota Bawaslu Tulang Bawang, unsur sekretariat, mitra kerja, dan perwakilan masyarakat sipil. Sesi ini menjadi bagian penting dari rangkaian penguatan kapasitas kelembagaan Bawaslu dalam menghadapi tahapan Pemilihan Kepala Daerah Serentak Tahun 2025 dan Pemilu Nasional 2029.

Masyarakat Sipil sebagai Penggerak Demokrasi

Dalam paparannya, Chairian Tomy menegaskan bahwa keberhasilan penyelenggaraan pemilu yang berintegritas tidak hanya bergantung pada lembaga penyelenggara atau pengawas, tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat. Ia menilai, peran lembaga pemantau independen dan organisasi masyarakat sipil (OMS) sangat krusial dalam memastikan proses demokrasi berjalan jujur, adil, dan transparan.

“Pemilu yang berintegritas hanya bisa terwujud bila semua elemen bangsa terlibat aktif. Lembaga pengawas seperti Bawaslu memang menjadi garda depan, tetapi masyarakat sipil adalah penyangga moral demokrasi. Mereka berperan sebagai mata dan telinga publik untuk memastikan tidak ada pelanggaran yang dibiarkan,” ujar Chairian Tomy.

Menurutnya, lembaga pemantau dan masyarakat sipil dapat berperan dalam tiga aspek utama, yakni pemantauan independen di lapangan, pendidikan politik bagi pemilih, dan penyebarluasan nilai-nilai anti-politik uang serta anti-hoaks.

“Partisipasi publik harus ditumbuhkan bukan hanya saat pemungutan suara, tetapi sejak awal tahapan. Masyarakat perlu didorong untuk terlibat dalam pengawasan berbasis kesadaran, bukan hanya kepentingan politik,” tambahnya.

Sinergi Bawaslu dan Pemantau: Membangun Kepercayaan Publik

Chairian juga menyoroti pentingnya sinergi antara Bawaslu dan lembaga pemantau untuk membangun kepercayaan publik terhadap proses pemilu. Kolaborasi yang kuat, kata dia, dapat menjadi langkah strategis dalam memperkecil ruang pelanggaran serta memperkuat transparansi proses demokrasi di tingkat daerah.

“Hubungan Bawaslu dan masyarakat sipil harus bersifat kolaboratif, bukan sekadar formalitas. Dengan sinergi yang baik, hasil pengawasan akan lebih komprehensif dan kredibel di mata publik,” ungkapnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya memperluas jaringan pengawasan partisipatif di tingkat akar rumput, termasuk dengan melibatkan komunitas pemuda, mahasiswa, tokoh agama, dan media lokal sebagai bagian dari sistem kontrol sosial demokrasi.

g

Editor: Bambang AP
Foto: Bambang AP